Menggambar merupakan kegiatan yang senang dilakukan anak-anak. Kegiatan ini juga banyak bermanfaat bagi tumbuh kembang anak, termasuk melatih kemampuan motorik dan daya imajinasinya.
Namun, kebanyakan anak menyukai bidang gambar yang luas, seperti dinding rumah. Pada situasi ini, apa langkah yang seharusnya dilakukan oleh orangtua?
Baca Juga: harga kaca
Psikolog anak Samanta Ananta, M. Psi menjelaskan, orangtua idealnya memperkenalkan satu media untuk digunakan anak menuangkan kreativitasnya. Misalnya, buku gambar, kanvas atau media lainnya.
Menurut Samanta, hal itu penting untuk mengajarkan anak sikap bertanggungjawab. "Boleh (menggambar) tapi di media yang disediakan itu. Supaya anak tahu aturan," kata Samanta ketika ditemui pada acara kick off Koko Olimpiade 2019 di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Selasa (22/1/2019).
Jika anak masih tetap ingin menggambar di dinding, orangtua bisa melakukan cara lain. Misalnya menggunakan cat tembok yang mudah dibersihkan dari noda atau menggunakan cat khusus yang membuat dinding nantinya akan seperti papan tulis.
Selain menggunakan cat, orangtua juga bisa menyediakan kertas yang ditempel di dinding untuk media anak menggambar. Samanta menjelaskan, interaksi orangtua akan membuat anak merasa bahwa langkah mereka diapresiasi.
"Bahwa orangtua mereka menyediakan dan ingin anak mengembangkan potensinya," kata perempuan yang gemar traveling ini. Efek positif menggambar Kegiatan seni memiliki manfaat untuk bisa mempromosikan pertumbuhan diri dan membuat seseorang merasa bahagia, salah satunya menggambar.
Artikel Terkait: tandon air
Menggambar dan mewarnai termasuk jenis seni yang paling mudah dan bisa dilakukan di mana saja. Menggambar dan mewarnai terkadang bisa menjadi jalan keluar bagi anak pada situasi membosankan. Misalnya, ketika kumpul keluarga besar.
"Paling tidak anak merasa mereka tetap ada di lingkup keluarga tapi punya aktivitas yang bisa menjadi mood booster mereka," kata Samanta.
Samanta menjelaskan, seni dapat membantu meningkatkan kemampuan memori dan kepercayaan diri anak. Seni, termasuk menggambar, bisa sangat berpengaruh dalam melepaskan hormon kortisol atau hormon stres.
Sehingga, hormon endorfin atau dopamin mampu dilepaskan. "Efeknya sama seperti makan cokelat, sangat refresh," ucap Samanta. Rangkaian efek positif tersebut tidak hanya didapatkan lewat menggambar.
Bagi anak yang tidak suka menggambar bisa pula menjajal seni lainnya, seperti sablon pada kain atau bermain dengan malam. "Apapun seninya itu bisa memberikan efek anak punya mood yang lebih baik, lebih kreatif, emosi lebih stabil dan mendapatkan stimulasi sensori."
Pada anak-anak, sensori penting karena akan menstimulasi semua kerja otak.
Blog pribadi yang mengulas rangkain ilmu pengetahuan dan informasi paling aktual secara gratis untuk teman teman semuanya
Wednesday, June 26, 2019
Inilah Kombinasi warna cat rumah yang trend tahun 2019
Setiap orang tentunya menginginkan sebuah hunian yang cantik dan nyaman, dan warna adalah salah satu aspek yang berpengaruh. Yuk cari tahu kombinasi warna cat rumah seperti apa yang sedang trend tahun ini:
Apakah Warna itu Penting?
Bagi Anda yang sedang merenovasi atau membangun sebuah hunian, mungkin tidak terlalu memperhatikan warna cat rumah tersebut. Memang betul banyak orang yang mengesampingkan pentingnya warna dalam sebuah benda.
Baca Juga: harga borongan bangunan
Padahal, nyatanya warna itu dapat mempengaruhi emosional seseorang loh. Yuk kita bahas sedikit soal warna.
Berdasarkan Voiceofcolor.com, warna dapat diklasifikasikan berdasarkan kelompoknya dalam roda warna (color wheel).
Berdasarkan color wheel, terdapat tiga kelompok warna yaitu primary colors, secondary colors, dan tertiary colors. Ketiga kelompok warna tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Primary colors mencakup warna merah, kuning, dan biru dimana warna tersebut disebut primer karena merupakan warna dasar yang tidak dapat diciptakan melalui pencampuran warna lain.
Secondary colors mencakup warna oranye, hijau, dan ungu yang merupakan hasil perpaduan dua jenis warna primer.
Selain itu, terdapat tertiary colors yang merupakan perpaduan antara primary colors dan secondary colors, yaitu kuning-oranye, merah-oranye, merah-ungu, biru-ungu, biru-hijau, dan kuning-hijau.
Laman Voiceofcolor.com juga mengungkapkan bahwa warna dapat dibedakan kadar cerahnya atau sering disebut hue. Tingkat cerah suatu warna ditentukan berdasarkan kadar hitam yang terkandung di dalamnya.
Warna yang mengandung banyak hitam akan disebut dark colors, sedangkan warna yang sama sekali tidak mengandung hitam disebut bright colors.
Artikel Terkait: harga semen
Dalam laman Voiceofcolor.com, hitam dan putih tidak termasuk dalam jenis warna pada roda warna.
Apakah Warna itu Penting?
Bagi Anda yang sedang merenovasi atau membangun sebuah hunian, mungkin tidak terlalu memperhatikan warna cat rumah tersebut. Memang betul banyak orang yang mengesampingkan pentingnya warna dalam sebuah benda.
Baca Juga: harga borongan bangunan
Padahal, nyatanya warna itu dapat mempengaruhi emosional seseorang loh. Yuk kita bahas sedikit soal warna.
Berdasarkan Voiceofcolor.com, warna dapat diklasifikasikan berdasarkan kelompoknya dalam roda warna (color wheel).
Berdasarkan color wheel, terdapat tiga kelompok warna yaitu primary colors, secondary colors, dan tertiary colors. Ketiga kelompok warna tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Primary colors mencakup warna merah, kuning, dan biru dimana warna tersebut disebut primer karena merupakan warna dasar yang tidak dapat diciptakan melalui pencampuran warna lain.
Secondary colors mencakup warna oranye, hijau, dan ungu yang merupakan hasil perpaduan dua jenis warna primer.
Selain itu, terdapat tertiary colors yang merupakan perpaduan antara primary colors dan secondary colors, yaitu kuning-oranye, merah-oranye, merah-ungu, biru-ungu, biru-hijau, dan kuning-hijau.
Laman Voiceofcolor.com juga mengungkapkan bahwa warna dapat dibedakan kadar cerahnya atau sering disebut hue. Tingkat cerah suatu warna ditentukan berdasarkan kadar hitam yang terkandung di dalamnya.
Warna yang mengandung banyak hitam akan disebut dark colors, sedangkan warna yang sama sekali tidak mengandung hitam disebut bright colors.
Artikel Terkait: harga semen
Dalam laman Voiceofcolor.com, hitam dan putih tidak termasuk dalam jenis warna pada roda warna.
Penyebab Omset Aneka Pot Meningkat Saat lebaran
Pesanan pot hasil tangan Tambrin Lahati, (43) Warga Kelurahan Gogagoman, Kecamatan Kotamobagu Barat, mengalami peningkatan pada bulan Ramadhan.
Kerajinan tangan berupa pot bunga berbahan pasir dan semen atau cor yang memulai usaha itu sejak 2013. Dari kreasi tangannya, aneka pot bunga beragam motif cantik berhasil tercipta di Istana Pot.
Baca Juga: harga keramik
Menurutnya, usaha yang Ia geluti selama 5 tahun ini cukup menjanjikan. Ia hanya memerlukan komposisi berupa semen, pasir, kawat dan cat tembok untuk membuat kerajinan tersebut.
“Bahan bakunya, semen, pasir, cat tembok, serta peralatan berupa tropol dan piso dumpul. Pembuatannya pun masih secara manual, yah Syukurlah dalam sehari bisa memproduksi 12 hingga 20 biji pot dengan omset kurang lebih 400 sampai 500 ribu per hari,” ungkap Papa Fahmi sapaan akrabnya, Selasa, (28/05/2018).
Dari adonan bahan itu, ia membentuknya menggunakan alat cetakan manual menjadi beragam model pot bunga dan ukurannya. Masing-masing pot Ia hargai antara Rp 35 ribu hingga 350 ribu tergantung model dan tingkat kesulitan dalam membuat. “Harganya bervariasi tergantung tingkat kesulitannya.
Ada juga pemesan dari luar daerah, ada juga yang sudah jadi langganan. Yah, syukurlah dalam sehari penjualannya bisa tembus ratusan ribu dan mampu menopang kebutuhan ekonomi keluarga kami,” ujarnya. Dia berharap, usaha ini dapat terus berkembang sehingga mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang.
Artikel Terkait: triplek
“Yah harapannya seperti itu, bisa berkembang dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Apalagi sekarang kebutuhan lapangan pekerjaan sangan minim,” tukas Bapak satu anak ini, sembari berharap pemerintah dapat memberikan bantuan alat cetak untuk mengembangkan usahanya.
Kerajinan tangan berupa pot bunga berbahan pasir dan semen atau cor yang memulai usaha itu sejak 2013. Dari kreasi tangannya, aneka pot bunga beragam motif cantik berhasil tercipta di Istana Pot.
Baca Juga: harga keramik
Menurutnya, usaha yang Ia geluti selama 5 tahun ini cukup menjanjikan. Ia hanya memerlukan komposisi berupa semen, pasir, kawat dan cat tembok untuk membuat kerajinan tersebut.
“Bahan bakunya, semen, pasir, cat tembok, serta peralatan berupa tropol dan piso dumpul. Pembuatannya pun masih secara manual, yah Syukurlah dalam sehari bisa memproduksi 12 hingga 20 biji pot dengan omset kurang lebih 400 sampai 500 ribu per hari,” ungkap Papa Fahmi sapaan akrabnya, Selasa, (28/05/2018).
Dari adonan bahan itu, ia membentuknya menggunakan alat cetakan manual menjadi beragam model pot bunga dan ukurannya. Masing-masing pot Ia hargai antara Rp 35 ribu hingga 350 ribu tergantung model dan tingkat kesulitan dalam membuat. “Harganya bervariasi tergantung tingkat kesulitannya.
Ada juga pemesan dari luar daerah, ada juga yang sudah jadi langganan. Yah, syukurlah dalam sehari penjualannya bisa tembus ratusan ribu dan mampu menopang kebutuhan ekonomi keluarga kami,” ujarnya. Dia berharap, usaha ini dapat terus berkembang sehingga mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang.
Artikel Terkait: triplek
“Yah harapannya seperti itu, bisa berkembang dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Apalagi sekarang kebutuhan lapangan pekerjaan sangan minim,” tukas Bapak satu anak ini, sembari berharap pemerintah dapat memberikan bantuan alat cetak untuk mengembangkan usahanya.
Penyebab Pembuatan Mural 3D di Terowongan Jalan Setu Raya Cipayung Terhambat
Permukaan tembok di Terowongan Mabes, Jalan Setu Raya, Cipayung, Jakarta Timur yang tak rata, jadi kendala utama petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Kelurahan Setu saat lakukan mural.
Sebelumnya diberitakan, dalam rangka HUT Jakarta ke-492 Terowongan Mabes disulap menjadi mural 3D bernuansa ornamen khas Ibukota, kubus 3D dan lukisan lainnya hasil kreasi tujuh orang petugas PPSU.
Baca Juga: harga cat tembok
Dibalik deretan mural yang sudah diberikan warna ini, menyimpan kesulitan sendiri bagi para petugas PPSU yang sejak Senin (17/6/2019) sudah mulai mengerjakan.
Imam Akmaludin (26) menceritakan tembok yang awalnya kumuh dan penuh coretan harus dilapisi oleh cat putih terlebih dulu.
Ketika ia dan rekan lainnya membuat pola, tidak ratanya struktur tembok membuat mereka harus memakan waktu lebih lama ketika proses pembuatan pola.
"Ini tembok enggak rata. Kita susahnya disitu pas gambar pola. Makanya makan waktu agak lama di situ. Untungnya, kitanya memang biasa gambar juga. Jadi InsyaAllah dari sebelum 22 Juni sudah kelar ini," ungkapnya, Rabu (19/6/2019).
Lokasi yang merupakan akses utama menuju Markas Besar TNI AD juga menjadi kendala lainnya.
• Terseok-seok di Zona Degradasi, Ismed Sofyan Minta Persija Jakarta Segera Bangkit di Liga 1 2019
• Saksi Prabowo-Sandi Mengaku Diancam Sebelum Pemungutan Suara, Hakim MK: Mengapa Tidak Melapor?
• Hanya Kenal Sosok Ibunda & Ditinggalkan Ayah saat Masih Bayi, Reza Rahadian Tak Merasa Kehilangan
Menurut Imam, ketika pagi hari di jalan tersebut harus steril dari sepeda motor yang berhenti di terowongan.
Artikel Terkait: besi beton
"Kalau kita mural kan harus naik motor, motornya parkir di sisi sini. Makanya kalau pagi enggak bisa mural, paling jam 07.30 WIB baru bisa pas kendaraan sudah berangsur sedikit. Sebab ini salah satu jalur utama kendaraan masuk ke Mabes juga," sambungnya.
Dari 4 tembok yang ada, satu tembok sepanjang 40 meter dengan tinggi 2 meter sudah hampir selesai proses pengerjaannya.
Sedangkan tiga tembok lainnya masih dalam proses pembuatan pola dan beberapa sudah di cat.
Sebelumnya diberitakan, dalam rangka HUT Jakarta ke-492 Terowongan Mabes disulap menjadi mural 3D bernuansa ornamen khas Ibukota, kubus 3D dan lukisan lainnya hasil kreasi tujuh orang petugas PPSU.
Baca Juga: harga cat tembok
Dibalik deretan mural yang sudah diberikan warna ini, menyimpan kesulitan sendiri bagi para petugas PPSU yang sejak Senin (17/6/2019) sudah mulai mengerjakan.
Imam Akmaludin (26) menceritakan tembok yang awalnya kumuh dan penuh coretan harus dilapisi oleh cat putih terlebih dulu.
Ketika ia dan rekan lainnya membuat pola, tidak ratanya struktur tembok membuat mereka harus memakan waktu lebih lama ketika proses pembuatan pola.
"Ini tembok enggak rata. Kita susahnya disitu pas gambar pola. Makanya makan waktu agak lama di situ. Untungnya, kitanya memang biasa gambar juga. Jadi InsyaAllah dari sebelum 22 Juni sudah kelar ini," ungkapnya, Rabu (19/6/2019).
Lokasi yang merupakan akses utama menuju Markas Besar TNI AD juga menjadi kendala lainnya.
• Terseok-seok di Zona Degradasi, Ismed Sofyan Minta Persija Jakarta Segera Bangkit di Liga 1 2019
• Saksi Prabowo-Sandi Mengaku Diancam Sebelum Pemungutan Suara, Hakim MK: Mengapa Tidak Melapor?
• Hanya Kenal Sosok Ibunda & Ditinggalkan Ayah saat Masih Bayi, Reza Rahadian Tak Merasa Kehilangan
Menurut Imam, ketika pagi hari di jalan tersebut harus steril dari sepeda motor yang berhenti di terowongan.
Artikel Terkait: besi beton
"Kalau kita mural kan harus naik motor, motornya parkir di sisi sini. Makanya kalau pagi enggak bisa mural, paling jam 07.30 WIB baru bisa pas kendaraan sudah berangsur sedikit. Sebab ini salah satu jalur utama kendaraan masuk ke Mabes juga," sambungnya.
Dari 4 tembok yang ada, satu tembok sepanjang 40 meter dengan tinggi 2 meter sudah hampir selesai proses pengerjaannya.
Sedangkan tiga tembok lainnya masih dalam proses pembuatan pola dan beberapa sudah di cat.
Monday, June 17, 2019
Penyebab Uang Pekerja Migran Mampu Jamin Pendidikan Anak
Kiriman uang dari para pekerja migran yang masuk ke dalam negeri atau remitansi tak hanya berdampak signifikan pada keluarga. Remitansi menggerakkan roda perekonomian dan berperan penting menghapuskan kemiskinan. PBB pun memberi hari khusus yaitu Hari Remitansi Internasional yang diperingati tiap 16 Juni. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Salsabila Annisa Azmi dan Riri Rahayuningsih.
Remitansi tak hanya mengubah wajah sebuah keluarga, namun juga satu kawasan. Kontribusi keuangan pekerja migran bagi kesejahteraan keluarga berpengaruh bagi pembangunan berkelanjutan negara asal mereka. Meski saat ini DIY tak lagi mengirimkan pekerja migran ke luar negeri, namun remitansi yang selama ini telah berjalan, dampaknya terus dirasakan.
Potret remitansi menjadi urat nadi kehidupan keluarga tercermin dari kisah-kisah yang lahir dari Desa Plembutan, Kecamatan Playen, Gunungkidul. Salah satunya datang dari keluarga Suyitno, 40, dan Sumartini, 36. Kepada Harian Jogja, Suyitno bercerita, bercerita sebelum menikah, mereka sama-sama merasakan getirnya banting tulang dengan upah yang mereka rasa minim. Suyitno memilih menjadi buruh di pabrik tripleks dengan penghasilan Rp500.000 per bulan. Sementara Sumartini memilih menjadi buruh serabutan yang penghasilannya tak menentu.
Baca Juga: harga borongan bangunan
Suyitno sadar dengan tingkat pendidikan yang dia miliki, dia akan tetap mendapatkan upah di bawah Upah Minimum Regional (UMR) DIY. Maka Suyitno memutuskan untuk lebih dulu merantau bekerja sebagai buruh pabrik di Malaysia pada 2000. "Upah saya waktu itu Rp2 juta per bulan. Waktu itu, Rp2 juta sudah lebih tinggi daripada yang bisa saya dapatkan di Indonesia," kata Suyitno pekan lalu.
Tiga tahun kemudian Suyitno kembali ke Indonesia dan melamar Sumartini di Desa Plembutan, Gunungkidul. Setelah menikah, mereka berdua tinggal di rumah orang tuanya di Dusun Papringan, Desa Plembutan. Tak lama kemudian mereka dikaruniai seorang anak laki-laki.
Biaya pendidikan anak dan keinginan untuk lekas membeli tanah untuk tinggal di rumah sendiri, menjadi motivasi sepasang suami istri itu untuk mengambil suatu tantangan. Mereka sadar, upah mereka berdua yang dihasilkan dari bekerja sebagai buruh tidak akan cukup memenuhi segala kebutuhan masa depan.
Artikel Terkait: Upah Tukang Bangunan
Sumartini akhirnya memutuskan merantau ke Hong Kong menjadi pekerja rumah tangga pada 2015. Sementara Suyitno tetap tinggal di Gunungkidul mengurus anak mereka yang saat itu duduk di bangku kelas 1 SD, sambil menjalankan usaha kerupuk yang dirintisnya bersama orang tuanya. Suyitno mengaku tidak masalah dengan pergantian peran itu.
Setiap bulan Sumartini mengirim Rp4 Juta dari Hong Kong. Daji tenaga kerja di sana berkisar antara Rp7 juta hingga belasan juta. Menurut Suyitno upah itu dapat meningkatkan penghasilan keluarga mereka setidaknya sebanyak 50%. Kiriman Sumartini langsung ditabung.
Suyitno mengatur keuangan dengan sangat hati-hati. Setiap bulan setelah digunakan untuk ini itu, Suyitno juga lebih leluasa menyisihkan penghasilannya demi kebutuhan pendidikan anak semata wayangnya.
Tahun kedua Sumartini bekerja di Hong Kong, tabungan pun terkumpul. Akhirnya mereka bisa membeli tanah berukuran 7x9 meter di Desa Plembutan, Gunungkidul. Mereka tinggal tepat di belakang rumah orang tua mereka.
Kini setelah 4 tabun Sumartini bekerja di Hong Kong, menurutnya dana pendidikan anaknya sudah aman hingga SMP. Sebelumnya dia tak mengira akan memiliki dana pendidikan cadangan hingga beberapa tahun. Mereka pun bisa merenovasi rumah mereka menjadi lebih indah.
Mengenai usaha baru, Suyitno mengaku belum memiliki pandangan. Pasalnya, Suyitno masih sibuk membantu usaha kerupuk yang dijalankan orang tuanya. Suyitno juga sadar untuk membuka usaha baru mereka harus lebih lama berjuang untuk mengumpulkan modal.
"Satu keluarga kami itu rata-rata pernah bekerja di luar negeri, adik saya tahun 1990-an juga kerja di Kuwait dan Saudi Arabia, semua dilakukan buat hidup yang lebih baik. Memang di Desa Plembutan ini hampir semua warganya mantan TKI atau [tenaga kerja wanita] TKW," kata Suyitno.
Dihubungi Harian Jogja melalui aplikasi pesan Whatsapp Sumartini menuturkan di Hong Kong ia merawat warga manula dan telah melalui dua kali kontrak. Panjang satu kontrak adalah dua tahun. “Saya selalu disiplin mentransfer uang untuk keluarga di kampung halaman,” ujarnya.
Uang yang Sumartini kirimkan untuk keluarga di Indonesia itu ia tujukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk untuk ditabung dan digunakan sebagai investasi pribadi. Ia pun merasa bersyukur karena uang kirimannya dari Hong Kong bisa membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga di Indonesia.
Tak hanya berharap kepada keluarganya, sebagai pahlawan devisa Sumartini juga berharap pada negara. Ia berharap negara bisa memberi pelayanan yang baik bagi para pekerja migran di luar negeri. “
Banyak Modal
Melihat perjalanan para warga Desa Plembutan, Gunungkidul, mengingatkan Sri Sutarmiyati atas masa-masa perjuangannya sebagai pengasuh manula di Taiwan pada 2000. Kasi Pelayanan Kantor Desa Plembutan ini memutuskan untuk menjadi pekerja migran dan meninggalkan satu orang anak yang masih balita.
"Waktu itu saya melihat tetangga saya, kok belum lama kerja di luar negeri sudah bisa beli mobil, memperbaiki rumah, menabung banyak. Saya kan jadi ingin juga, demi masa depan anak saya juga," kata Sutarmi.
Berat hati Sutarmi meninggalkan anaknya, kadang rindu menyergap hatinya saat di perantauan. Berkali-kali dia ingin menyerah dan pulang ke Indonesia. Apalagi banyak rekan-rekan seangkatannya yang melarikan diri karena tidak kuat mental. Namun membayangkan masa depan pendidikan anaknya yang semakin cerah berkat gaji yang selalu dikirimnya, Sutarmi kuat menjalani berbagai macam tempaan majikannya di Taiwan.
"Gaji saya waktu itu Rp3 Juta. Saya kumpulkan selama setahun, baru saya kirim ke Indonesia. Alhamdulillah, tahun kedua sudah bisa beli tanah, meskipun cuma di Plembutan sini, bangun rumah yang lebih layak. Biaya pendidikan anak juga aman," kata Sutarmi.
Bekerja sebagai pekerja migran di Desa Plembutan sejak 1990-an. Pada 2010, warga yang bekerja di luar negeri semakin banyak. Beberapa dari mereka bekerja hingga belasan tahun dan kini kembali ke Desa Plembutan dengan banyak modal.
Kepala Desa Plembutan, Gunungkidul, Edi Supriyanti mengatakan modal para pekerja migran yang berputar di desa mengubah wajah desa menjadi lebih hidup. Pada 1990-an, Desa Plembutan merupakan desa yang penuh tanah kosong. Rumah warga rata-rata masih terbuat dari anyaman bambu dan kayu. Tak ada satu pun kendaraan bermobil terparkir di halaman rumah mereka.
"Setelah modal dari gaji terkumpul, biasanya mereka akan membangun rumah dulu, rumahnya jadi bagus-bagus. Tadinya kayu jadi dinding, diberi lantai. Kemudian setelah itu baru modalnya buat pendidikan anak, kalau sudah sampai belasan tahun, biasanya pulang ke Plembutan terus bikin usaha," kata Edi.
Edi mengatakan cukup banyak mantan pekerja migran angkatan 2000 yang sudah kembali pulang ke Desa Plembutan. Biasanya mereka yang menghabiskan waktu belasan tahun mendirikan usaha. Usahanya bermacam-macam, mulai dari toko bangunan, kios pulsa, hingga jasa sewa peralatan hajat pernikahan.
Edi kemudian menegaskan bahwa perubahan wajah Desa Plembutan bisa dilihat dari banyaknya rumah yang direnovasi, bersanding dengan rumah yang masih berdinding kayu. Berbagai usaha warga pun mulai bermunculan di pinggir jalan besar Desa Plembutan.
Remitansi tak hanya mengubah wajah sebuah keluarga, namun juga satu kawasan. Kontribusi keuangan pekerja migran bagi kesejahteraan keluarga berpengaruh bagi pembangunan berkelanjutan negara asal mereka. Meski saat ini DIY tak lagi mengirimkan pekerja migran ke luar negeri, namun remitansi yang selama ini telah berjalan, dampaknya terus dirasakan.
Potret remitansi menjadi urat nadi kehidupan keluarga tercermin dari kisah-kisah yang lahir dari Desa Plembutan, Kecamatan Playen, Gunungkidul. Salah satunya datang dari keluarga Suyitno, 40, dan Sumartini, 36. Kepada Harian Jogja, Suyitno bercerita, bercerita sebelum menikah, mereka sama-sama merasakan getirnya banting tulang dengan upah yang mereka rasa minim. Suyitno memilih menjadi buruh di pabrik tripleks dengan penghasilan Rp500.000 per bulan. Sementara Sumartini memilih menjadi buruh serabutan yang penghasilannya tak menentu.
Baca Juga: harga borongan bangunan
Suyitno sadar dengan tingkat pendidikan yang dia miliki, dia akan tetap mendapatkan upah di bawah Upah Minimum Regional (UMR) DIY. Maka Suyitno memutuskan untuk lebih dulu merantau bekerja sebagai buruh pabrik di Malaysia pada 2000. "Upah saya waktu itu Rp2 juta per bulan. Waktu itu, Rp2 juta sudah lebih tinggi daripada yang bisa saya dapatkan di Indonesia," kata Suyitno pekan lalu.
Tiga tahun kemudian Suyitno kembali ke Indonesia dan melamar Sumartini di Desa Plembutan, Gunungkidul. Setelah menikah, mereka berdua tinggal di rumah orang tuanya di Dusun Papringan, Desa Plembutan. Tak lama kemudian mereka dikaruniai seorang anak laki-laki.
Biaya pendidikan anak dan keinginan untuk lekas membeli tanah untuk tinggal di rumah sendiri, menjadi motivasi sepasang suami istri itu untuk mengambil suatu tantangan. Mereka sadar, upah mereka berdua yang dihasilkan dari bekerja sebagai buruh tidak akan cukup memenuhi segala kebutuhan masa depan.
Artikel Terkait: Upah Tukang Bangunan
Sumartini akhirnya memutuskan merantau ke Hong Kong menjadi pekerja rumah tangga pada 2015. Sementara Suyitno tetap tinggal di Gunungkidul mengurus anak mereka yang saat itu duduk di bangku kelas 1 SD, sambil menjalankan usaha kerupuk yang dirintisnya bersama orang tuanya. Suyitno mengaku tidak masalah dengan pergantian peran itu.
Setiap bulan Sumartini mengirim Rp4 Juta dari Hong Kong. Daji tenaga kerja di sana berkisar antara Rp7 juta hingga belasan juta. Menurut Suyitno upah itu dapat meningkatkan penghasilan keluarga mereka setidaknya sebanyak 50%. Kiriman Sumartini langsung ditabung.
Suyitno mengatur keuangan dengan sangat hati-hati. Setiap bulan setelah digunakan untuk ini itu, Suyitno juga lebih leluasa menyisihkan penghasilannya demi kebutuhan pendidikan anak semata wayangnya.
Tahun kedua Sumartini bekerja di Hong Kong, tabungan pun terkumpul. Akhirnya mereka bisa membeli tanah berukuran 7x9 meter di Desa Plembutan, Gunungkidul. Mereka tinggal tepat di belakang rumah orang tua mereka.
Kini setelah 4 tabun Sumartini bekerja di Hong Kong, menurutnya dana pendidikan anaknya sudah aman hingga SMP. Sebelumnya dia tak mengira akan memiliki dana pendidikan cadangan hingga beberapa tahun. Mereka pun bisa merenovasi rumah mereka menjadi lebih indah.
Mengenai usaha baru, Suyitno mengaku belum memiliki pandangan. Pasalnya, Suyitno masih sibuk membantu usaha kerupuk yang dijalankan orang tuanya. Suyitno juga sadar untuk membuka usaha baru mereka harus lebih lama berjuang untuk mengumpulkan modal.
"Satu keluarga kami itu rata-rata pernah bekerja di luar negeri, adik saya tahun 1990-an juga kerja di Kuwait dan Saudi Arabia, semua dilakukan buat hidup yang lebih baik. Memang di Desa Plembutan ini hampir semua warganya mantan TKI atau [tenaga kerja wanita] TKW," kata Suyitno.
Dihubungi Harian Jogja melalui aplikasi pesan Whatsapp Sumartini menuturkan di Hong Kong ia merawat warga manula dan telah melalui dua kali kontrak. Panjang satu kontrak adalah dua tahun. “Saya selalu disiplin mentransfer uang untuk keluarga di kampung halaman,” ujarnya.
Uang yang Sumartini kirimkan untuk keluarga di Indonesia itu ia tujukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk untuk ditabung dan digunakan sebagai investasi pribadi. Ia pun merasa bersyukur karena uang kirimannya dari Hong Kong bisa membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga di Indonesia.
Tak hanya berharap kepada keluarganya, sebagai pahlawan devisa Sumartini juga berharap pada negara. Ia berharap negara bisa memberi pelayanan yang baik bagi para pekerja migran di luar negeri. “
Banyak Modal
Melihat perjalanan para warga Desa Plembutan, Gunungkidul, mengingatkan Sri Sutarmiyati atas masa-masa perjuangannya sebagai pengasuh manula di Taiwan pada 2000. Kasi Pelayanan Kantor Desa Plembutan ini memutuskan untuk menjadi pekerja migran dan meninggalkan satu orang anak yang masih balita.
"Waktu itu saya melihat tetangga saya, kok belum lama kerja di luar negeri sudah bisa beli mobil, memperbaiki rumah, menabung banyak. Saya kan jadi ingin juga, demi masa depan anak saya juga," kata Sutarmi.
Berat hati Sutarmi meninggalkan anaknya, kadang rindu menyergap hatinya saat di perantauan. Berkali-kali dia ingin menyerah dan pulang ke Indonesia. Apalagi banyak rekan-rekan seangkatannya yang melarikan diri karena tidak kuat mental. Namun membayangkan masa depan pendidikan anaknya yang semakin cerah berkat gaji yang selalu dikirimnya, Sutarmi kuat menjalani berbagai macam tempaan majikannya di Taiwan.
"Gaji saya waktu itu Rp3 Juta. Saya kumpulkan selama setahun, baru saya kirim ke Indonesia. Alhamdulillah, tahun kedua sudah bisa beli tanah, meskipun cuma di Plembutan sini, bangun rumah yang lebih layak. Biaya pendidikan anak juga aman," kata Sutarmi.
Bekerja sebagai pekerja migran di Desa Plembutan sejak 1990-an. Pada 2010, warga yang bekerja di luar negeri semakin banyak. Beberapa dari mereka bekerja hingga belasan tahun dan kini kembali ke Desa Plembutan dengan banyak modal.
Kepala Desa Plembutan, Gunungkidul, Edi Supriyanti mengatakan modal para pekerja migran yang berputar di desa mengubah wajah desa menjadi lebih hidup. Pada 1990-an, Desa Plembutan merupakan desa yang penuh tanah kosong. Rumah warga rata-rata masih terbuat dari anyaman bambu dan kayu. Tak ada satu pun kendaraan bermobil terparkir di halaman rumah mereka.
"Setelah modal dari gaji terkumpul, biasanya mereka akan membangun rumah dulu, rumahnya jadi bagus-bagus. Tadinya kayu jadi dinding, diberi lantai. Kemudian setelah itu baru modalnya buat pendidikan anak, kalau sudah sampai belasan tahun, biasanya pulang ke Plembutan terus bikin usaha," kata Edi.
Edi mengatakan cukup banyak mantan pekerja migran angkatan 2000 yang sudah kembali pulang ke Desa Plembutan. Biasanya mereka yang menghabiskan waktu belasan tahun mendirikan usaha. Usahanya bermacam-macam, mulai dari toko bangunan, kios pulsa, hingga jasa sewa peralatan hajat pernikahan.
Edi kemudian menegaskan bahwa perubahan wajah Desa Plembutan bisa dilihat dari banyaknya rumah yang direnovasi, bersanding dengan rumah yang masih berdinding kayu. Berbagai usaha warga pun mulai bermunculan di pinggir jalan besar Desa Plembutan.
Yang Harus Anda Lakukan Agar Rumah Tak 'Dijajah' Rayap
Rayap merupakan hewan kecil yang sangat menjengkelkan. Kekuatan giginya mampu merusak pondasi bahkan instalasi listrik di rumah. Kayu-kayu di rumah bahkan bisa hancur karena digigiti seranggga ini.
Dikutip dari At Home, rayap menyerang kayu yang berhubungan dengan tanah, lalu masuk melalui retakan atau rongga dinding dan fondasi. Binatang ini membuat liang–liang kembar di atas permukaan kayu beton atau pipa.
Baca Juga: wallpaper dinding kamar
Kerusakan yang disebabkan rayap tidak terbatas pada kayu. Rayap juga menyerang instalasi listrik dan instalasi AC, serta biasanya menyerang plafon, kusen baik jendela atau pintu dan furnitur kayu.
Salah satu cara pembasmian rayap dengan bahan kimia yang bersifat racun. Digunakan pada tanah yang ditentukan kadar kepekatannya. Pengerjaannya dengan cara dibor pada lantai atau dinding, lalu bahan kimia diinjeksi dengan jarak tertentu. Cara ini bisa bertahan hingga 12 bulan.
Hanya saja metode ini tidak aman bagi anak-anak dan hewan. Selain itu, menimbulkan bau yang dapat mengganggu anggota keluarga.
Dengan kemajuan teknologi, ancaman rayap bisa dicegah dengan anti rayap. Produk anti rayap menggunakan 0,5 gram Hexaflumuron yang jika dimakan rayap, delapan minggu kemudian rayap akan berganti kulit. Kulit lamanya pecah sementara kulit barunya tidak terbentuk lagi hingga rayap mengalami dehidrasi, kekeringan dan mati.
Artikel Terkait: harga kaca
Sistem penanganan ini tidak meracuni lingkungan, karena tidak ada penyemprotan, juga lebih aman bagi interior karena tidak menebar bau dan tidak merusak lantai atau dinding. Biaya penggunaan layanan ini dihitung berdasarkan panjang keliling dinding bangunan dalam satuan meter jumlah lantai dan fungsi bangunannya.
Ada juga tips agar rumah tak dipenuhi rayap. Pertama, hilangkan peluang yang bisa menimbulkan datangnya rayap, seperti area kayu yang lembab.
Buang kayu–kayu bekas yang sudah tidak terpakai, yang merupakan makanan dan tempat yang sangat digemari rayap.
Jangan menanam tanaman yang digemari rayap, misalnya, pohon palem. Untuk kitchen set, buat yang tidak menempel pada dinding dan dibawahnya diberikan roda agar dapat dibersihkan sewaktu-waktu.
Dikutip dari At Home, rayap menyerang kayu yang berhubungan dengan tanah, lalu masuk melalui retakan atau rongga dinding dan fondasi. Binatang ini membuat liang–liang kembar di atas permukaan kayu beton atau pipa.
Baca Juga: wallpaper dinding kamar
Kerusakan yang disebabkan rayap tidak terbatas pada kayu. Rayap juga menyerang instalasi listrik dan instalasi AC, serta biasanya menyerang plafon, kusen baik jendela atau pintu dan furnitur kayu.
Salah satu cara pembasmian rayap dengan bahan kimia yang bersifat racun. Digunakan pada tanah yang ditentukan kadar kepekatannya. Pengerjaannya dengan cara dibor pada lantai atau dinding, lalu bahan kimia diinjeksi dengan jarak tertentu. Cara ini bisa bertahan hingga 12 bulan.
Hanya saja metode ini tidak aman bagi anak-anak dan hewan. Selain itu, menimbulkan bau yang dapat mengganggu anggota keluarga.
Dengan kemajuan teknologi, ancaman rayap bisa dicegah dengan anti rayap. Produk anti rayap menggunakan 0,5 gram Hexaflumuron yang jika dimakan rayap, delapan minggu kemudian rayap akan berganti kulit. Kulit lamanya pecah sementara kulit barunya tidak terbentuk lagi hingga rayap mengalami dehidrasi, kekeringan dan mati.
Artikel Terkait: harga kaca
Sistem penanganan ini tidak meracuni lingkungan, karena tidak ada penyemprotan, juga lebih aman bagi interior karena tidak menebar bau dan tidak merusak lantai atau dinding. Biaya penggunaan layanan ini dihitung berdasarkan panjang keliling dinding bangunan dalam satuan meter jumlah lantai dan fungsi bangunannya.
Ada juga tips agar rumah tak dipenuhi rayap. Pertama, hilangkan peluang yang bisa menimbulkan datangnya rayap, seperti area kayu yang lembab.
Buang kayu–kayu bekas yang sudah tidak terpakai, yang merupakan makanan dan tempat yang sangat digemari rayap.
Jangan menanam tanaman yang digemari rayap, misalnya, pohon palem. Untuk kitchen set, buat yang tidak menempel pada dinding dan dibawahnya diberikan roda agar dapat dibersihkan sewaktu-waktu.
Sunday, June 16, 2019
Penyebab Skema Kerja Sama Tol Akses Makassar New Port Belum Diputuskan
PT Nusantara Infrastructure Tbk. atau META masih merumuskan skema pembangunan jalan tol ekstensi yang menjadi akses Makassar New Port (MNP), pelabuhan baru yang dikelola PT Pelindo IV (Persero).
Direktur Utama META, M. Ramdani Basri mengatakan pembangunan akses MNP merupakan penjajakan kerja sama perseroan dengan Pelindo IV. Dia menambahkan, Nusantara Infrastruktur akan mengeluarkan investasi untuk pembangunan akses tersebut. Namun, hingga saat ini belum ditentukan kompenasi yang akan didapatkan perseroan dari investasi tersebut.
Baca juga: Lebaran, 720.837 Kendaraan Lewati Tol Amplas
"Sebetulnya ini B to B (business to business). Investasi dari kami sehingga tetap ada tol [tarifnya]. Tapi belum konkret kompensasinya seperti apa," ujar Ramdani kepada Bisnis, beberapa waktu lalu.
Baca Juga: harga cat tembok
Akses yang akan dibangun META memiliki panjang dua kilometer. jalan akses ke Makassar New Port akan terhubung dengan jalan tol Tallo - Bandara Hasanuddin dan jalan tol Pelabuhan Soekarno Hatta - Pettarani. Dua jalan tol ini dikelola oleh entitas di bawah perseroan, yaitu PT Jalan Tol Seksi Empat dan PT Bosowa Marga Nusantara.
Direktur META Omar Danni Hassan sebelumnya mengatakan trase jalan tol untuk akses ke Makassar New Port belum ditetapkan sehingga perseroan belum bisa mengestimasi kebutuhan dana untuk pembangunannya. Kendati jalan akses hanya 2 kilometer, pembangunannya terbilang menantang.
Pasalnya, jalan akses akan melalui beragam persimpangan dengan jalan nontol yang sudah ada. Kendati demikian, dia berharap pembangunan jalan bisa selesai sebelum operasional penuh Makassar New Port pada 2019 nanti.
Artikel Terkait: tandon air
Baca juga: Tarif Tol Jakarta Cikampek Naik Pada 2020
Jaringan jalan tol di Makassar dinilai perlu ditambah guna mengantisipasi peningkatan arus kendaraan. Danni menyebut, salah satu penyumbang peningkatan volume kendaraan adalah aktivitas pelabuhan dan bandara.
Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, pada 2022 nanti, Bandara Sultan Hasannudin bisa menampung penumpang hingga 30 juta. Aktivitas bongkar muat barang di pelabuhan juga diproyeksi naik hingga 40% dibandingkan dengan posisi pada 2017.
Selain jalan tol akses ke Makassar New Port, saat ini Nusantara Infrastructure juga sudah memulai pembangunan jalan tol layang A.P Pettarani sepanjang 4,3 kilometer. Progres konstruksi jalan tol baru mencapai 28 persen dan diharapkan bisa rampung pada Agustus 2020. Berkat pembangunan jalan tol ini, Nusantara Infrastructure mendapat perpanjangan konsesi selama 15 tahun sehingga masa konsesi baru berakhir pada 2043.
Direktur Utama META, M. Ramdani Basri mengatakan pembangunan akses MNP merupakan penjajakan kerja sama perseroan dengan Pelindo IV. Dia menambahkan, Nusantara Infrastruktur akan mengeluarkan investasi untuk pembangunan akses tersebut. Namun, hingga saat ini belum ditentukan kompenasi yang akan didapatkan perseroan dari investasi tersebut.
Baca juga: Lebaran, 720.837 Kendaraan Lewati Tol Amplas
"Sebetulnya ini B to B (business to business). Investasi dari kami sehingga tetap ada tol [tarifnya]. Tapi belum konkret kompensasinya seperti apa," ujar Ramdani kepada Bisnis, beberapa waktu lalu.
Baca Juga: harga cat tembok
Akses yang akan dibangun META memiliki panjang dua kilometer. jalan akses ke Makassar New Port akan terhubung dengan jalan tol Tallo - Bandara Hasanuddin dan jalan tol Pelabuhan Soekarno Hatta - Pettarani. Dua jalan tol ini dikelola oleh entitas di bawah perseroan, yaitu PT Jalan Tol Seksi Empat dan PT Bosowa Marga Nusantara.
Direktur META Omar Danni Hassan sebelumnya mengatakan trase jalan tol untuk akses ke Makassar New Port belum ditetapkan sehingga perseroan belum bisa mengestimasi kebutuhan dana untuk pembangunannya. Kendati jalan akses hanya 2 kilometer, pembangunannya terbilang menantang.
Pasalnya, jalan akses akan melalui beragam persimpangan dengan jalan nontol yang sudah ada. Kendati demikian, dia berharap pembangunan jalan bisa selesai sebelum operasional penuh Makassar New Port pada 2019 nanti.
Artikel Terkait: tandon air
Baca juga: Tarif Tol Jakarta Cikampek Naik Pada 2020
Jaringan jalan tol di Makassar dinilai perlu ditambah guna mengantisipasi peningkatan arus kendaraan. Danni menyebut, salah satu penyumbang peningkatan volume kendaraan adalah aktivitas pelabuhan dan bandara.
Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, pada 2022 nanti, Bandara Sultan Hasannudin bisa menampung penumpang hingga 30 juta. Aktivitas bongkar muat barang di pelabuhan juga diproyeksi naik hingga 40% dibandingkan dengan posisi pada 2017.
Selain jalan tol akses ke Makassar New Port, saat ini Nusantara Infrastructure juga sudah memulai pembangunan jalan tol layang A.P Pettarani sepanjang 4,3 kilometer. Progres konstruksi jalan tol baru mencapai 28 persen dan diharapkan bisa rampung pada Agustus 2020. Berkat pembangunan jalan tol ini, Nusantara Infrastructure mendapat perpanjangan konsesi selama 15 tahun sehingga masa konsesi baru berakhir pada 2043.
Subscribe to:
Posts (Atom)